Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 22 Maret 2010

BAGAIMANA INI?

YOU KNOW WHAT?

Tunjangan kualifikasi yang diberikan oleh pemerintah untuk meringankan beban guru honorer dalam melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat S1 harus menelan pil pahit. Sebuah penghianatan yang dilakukan oleh pihak lembaga/yayasan benar-benar menghancurkan semangat peningkatan mutu pendidikan nasional.

Entah kecemburuan atau ketidakrelaan mereka sehingga perbuatan tidak bermoral itu dengan ringannya menjadi adat istiadat lembaga pendidikan. PUNGLI!!!!! Agaknya memang sudah menjadi bagian negeri ini. Bahkan sampai kepada corong-corong moral penyampai kebajikan. Sebuah penghianatan bukan saja kepada pemerintah tapi juga semua elemen pendidikan. Khususnya, guru (honorer).

Seorang guru mempunyai tugas bukan hanya memberikan materi pelajaran kepada para siswa untuk bekal mereka di masa depan, tapi juga moral melalui nasehat-nasehat dan perilaku. Apa yang mereka lakukan jelas sebuah penghinaan terhadap profesi guru. Seakan-akan mereka berkata,”Nasehat moral itu cuma untuk siswa bukan untuk guru. Begitu juga pelaksanaannya. Lupakan moral, ambil uangnya.” (Political jargon)

Tunjangan kualifikasi yang diterima guru honorer adalah sebesar Rp. 1.900.000,- setelah potong pajak sebesar Rp. 100.000,-. Uang tersebut diberikan kepada guru honorer langsung ke ATM pribadi dengan tujuan terhindar dari pungli. Tapi selalu ada celah bagi sebagian orang untuk mengutipnya. Guru dikenakan upeti oleh lembaga yang jumlahnya bervariasi (tergantung kebijakan masing-masing lembaga). Untuk kasus saya, tidak tanggung-tanggung mereka mengutip Rp. 400.000,-. Bukan jumlah yang sedikit untuk guru honorer seperti saya yang honornya rendah. Dimana jumlah tersebut hampir sama dengan honor saya di sekolah tersebut – Rp. 500.000,-. Dan jika saya tidak memberikan upeti tersebut, mereka tidak akan mengirim data saya untuk kualifikasi berikutnya (setahun kemudian). Itu berarti saya harus menyogok sejumlah satu bulan honor saya untuk mendapatkan tunjangan kualifikasi tersebut. MENYOGOK! Inikah yang saya ajarkan kepada murid saya. Tidak! Ini bukan saya! All or nothing!

Pesan Aunt May kepada Peter Parker (Spiderman 2), “Sometimes, to do the right thing, we must give up the things we want most, love most. Even our dreams.” Saya lebih memilih tidak mendapatkan tunjangan kualifikasi sama sekali daripada harus menyogok karena tidak sesuai dengan apa yang saya ajarkan kepada siswa-siswa saya. Saya tidak ingin menghianati siswa-siswa saya. Saya tidak ingin menghianati kata-kata saya kepada siswa-siswa saya.

Kasus tersebut hanya salah satu dari sekian kasus yang ada.

Kami, guru, adalah tenaga profesional bukan buruh. Kami berhak mendapatkan kesejahteraan yang layak/lebih baik dari buruh. Tidak ada guru yang hidup layak karena honor mengajar. Kebanyakan dari mereka harus mencari tambahan dengan mengambil pekerjaan sampingan. Sampingan, seharusnya tidak ada. Tidak profesional. Tidak jelas. Tidak pasti. Kadang tidak bermoral dan bermartabat.

Kami adalah guru. Kata-kata dan perbuatan kami adalah bekal masa depan bangsa.

Inikah pendidikan?

PENINGKATAN HASIL UJIAN NASIONAL SECARA NASIONAL GAMBARAN MENINGKATNYA KWALITAS ATAUKAH KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA?
Posted on 23 April 2009 by M Mursyid PW

PENDAHULUAN
Para siswa kelas XII beserta penyelenggara pendidikan setingkat SMA hari ini (23 April 2009) sedikit lega karena baru saja menyelesaikan puncak kegiatan Ujian Nasional. Sebagian dari mereka tersenyum karena strategi yang direncanakan untuk menyiasati UN dapat berjalan mulus. Sebagian lagi semakin stress karena hanya sebagian kecil dari soal UN yang dapat mereka jawab dengan benar. Sebagian kecil yang lain bersikap biasa-biasa saja karena memang mereka merasa dianugerahi kecerdasan lebih dari pada umumnya sehingga UN memang bagi mereka bukan hal yang terlalu membebani pikiran.

Para siswa kelas IX beserta penyelenggara pendidikan setingkat SMP kini sedang bersiap siaga memperkuat kuda-kuda karena Senin, 27 April 2009 nanti mereka akan bertemu dengan hari yang pada akhir-akhir ini sangat menyita waktu dan pikiran.

Sedemikian mencekam Ujian Nasional sehingga para siswa peserta dan penyelenggaranya masing-masing berlomba strategi demi kesuksesannya. Kesuksesan yang nisbi karena tidak sedikit siswa atau pihak penyelenggara menggunakan strategi yang sangat bertolak belakang dengan esensi dan substansi pendidkan itu sendiri.

KELULUSAN UJIAN NASIONAL MENINGKAT DARI TAHUN KE TAHUN?
Menurut data PUSPENDIK – puspendik.info , secara nasional dari tahun ke tahun terjadi peningkatan perolehan hasil Ujian Nasional yang ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kelulusan dan meningkatnya nilai rata-rata UN. Hal inilah yang salah satunya melatarbelakangi pemerintah mengambil kebijakan menaikkan standar kelulusan dari tahun ke tahun. Yang jadi persoalan, “Benar-benar benarkah meningkatnya hasil Ujian Nasional ini merupakan gambaran meningkatnya kwalitas pendidikan di Indonesia?
Apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua ini?”

DILEMA KIAT SUKSES UJIAN NASIONAL
Berbagai macam cara dilakukan demi kesuksesan Ujian Nasional. Sebagai bangsa yang religious tentu berdo’a merupakan hal yang sudah sewajarnya ditingkatkan dalam hal ini. Namun kadang yang terjadi peningkatan ketakwaan melalui do’a tersebut kadang juga dibarengi dengan perencanaan/penataan strategi yang bertentangan dengan esensi ajaran agama yang mengajarkan tentang kejujuran. Hal ini tidak akan diulas panjang karena penulis rasa sebagian besar dari kita mengetahui benar apa yang penulis maksud.

HASIL UJI COBA UN VERSUS HASIL UN SESUNGGUHNYA
Salah satu strategi menyiasati Ujian Nasional yang paling popular adalah dengan sering melakukan Uji Coba (TRY OUT) disamping kegiatan lain semacam tambahan jam pelajaran (LES) dan yang lainnya. Dalam menyelenggarakan Uji Coba UN pihak sekolah kadang harus merendahkan diri dengan menggunakan jasa lembaga/penyelenggara pendidikan di luar sekolah yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memperoleh soal yang sedekat mungkin dengan soal UN sesungguhnya. Lebih hebat lagi ada daerah-daerah tertentu di mana pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan setempat memfasilitasi anggaran yang bukan main besarnya untuk membuat kegiatan seputar persiapan UN dengan mengundang para pejabat pusat yang pada akhir kegiatannya juga ninggali beberapa set soal latihan UN untuk diuji-cobakan.

Dari sekian kali Uji Coba dari tahun ke tahun (pada sebagian besar sekolah) hasilnya selalu mirip yaitu hanya sebagian kecil sekali siswa yang berhasil LULUS. Sebagai gambaran: Pada sekolah ‘A’ yang berpredikat SSN pada kegiatan Uji Coba UN sering ada banyak siswa yang tidak LULUS (bahkan kadang sampai hampir 50%). Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan hasil ujian nasional yang sesungguhnya di mana Sekolah ‘A’ tersebut selalu lulus 100%. Sungguh hal ini merupakan fenomena menarik untuk kita cermati bersama bahwa sesungguhnya apa yang terjadi di balik semua ini? Sekolah sekaliber sekolah ‘A’ tersebut tentu kecil kemungkinan pihak panitia penyelenggara di tingkat sekolah untuk berbuat curang. Yang perlu dipertanyakan apakah ada motif lain di tingkat elite sehingga perlu memanipulasi data (alias mengonversi nilai secara besar-besaran) seakan-akan pendidikan di Indonesia melalui hasil UN diketahui selalu terjadi peningkatan. Kalau hal demikian benar adanya sungguh betapa muramya pendidikan di Negara tercinta ini? Hanya karena malu dengan Negara tetangga yang katanya standar kelulusan ujiannya jauh di atas kita, kita rela dipermainkan angka.

(Ditulis oleh M. Mursyid P. W. – April 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar