Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 07 Maret 2010

NAU'DZUBILLAH

DUH BOCAH KELAS IV SD SUDAH MEMPERKOSA
MN (13), bocah yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD) 1 Birobuli, Kecamatan Palu Selatan, terpaksa diamankan aparat Reskrim Polres Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). MN diduga melakukan perbuatan mesum dengan seorang siswi kelas I SD.


MN ditangkap warga setempat ketika sedang melampiaskan nafsu bejatnya terhadap korban Rn (7), siswi SD lainnya, di sebuah rumah kosong dekat sungai di Jalan Anoa.

Berdasarkan informasi, Jumat (23/1), warga memergoki MN dan korban sekitar pukul 10:00 Wita dalam keadaan setengah telanjang. Namun, MN berhasil melarikan diri sebelum kemudian berhasil ditangkap di sebuah kamar kos milik temannya, dekat dengan tempat kejadian perkara.

Atas kejadian itu, korban yang ditemani ibunya kemudian mendatangi Mapolres setempat guna melaporkan kasus asusila tersebut.

Saat ditanya wartawan seusai mendampingi anaknya untuk memberikan keterangan kepada polisi, ibu korban yang masih dirahasiakan namanya itu membatasi diri berkomentar.

“Maaf, saya masih kaget dengan kejadian ini, kasihan anak saya, dia masih sangat kecil, tapi harus mengalami hal nasib seperti ini,” tuturnya Jumat (23/1).

Sementara itu, sebuah sumber di Polres Palu mengatakan, sesuai hasil visum yang dilakukan pihak RSU Bhayangkara setempat, pada bagian kemaluan korban Rn ditemukan luka akibat gesekan benda tumpul.

MN yang warga Jalan Anoa, Palu, hingga saat ini masih menjalani pemeriksaan tim penyidik Reskrim Polres setempat.

Sementara itu, sejumlah warga yang bermukim di dekat tempat tinggal pelaku mengatakan bahwa MN terkenal sebagai anak nakal di lingkungan mereka.

“Saking nakalnya, dia yang sudah berusia 13 tahun, tapi sampai saat ini masih duduk di bangku kelas IV SD,” kata seorang pemuda setempat yang menolak disebutkan namanya.

Kasat Reskrim Polresta Palu AKP Stefanus MT SIK, yang dikonfirmasi per telepon, membenarkan adanya kasus asusila yang melibatkan pelaku dan korban yang masih di bawah umur tersebut.

“Pihak kami masih memeriksa pelaku MN dan mengumpulkan barang bukti terkait penyidikan kasus ini,” kata dia.

Silahkan tulis pendapat/komentar Sampeyan mengenai tulisan di atas...

TES KEPERAWANAN OLEH GURU AGAMA DENGAN JIMAT

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Delapan wali murid siswa kelas III SMPN 6 Pamekasan, Selasa (27/1), memprotes tindakan Thalib, guru pendidikan agama, yang dinilai mengarah pada pelecehan seksual terhadap muridnya.

Tindakan tak senonoh itu dilakukan Thalib dengan cara memanggil satu demi satu siswi ke ruang usaha kesehatan sekolah (UKS) untuk dites keperawanannya dengan menggunakan jimat.
Kedatangan wali murid ke sekolah itu membuat kaget Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 6 Budi Trianto. “Kami ke sini ingin bertemu Pak Thalib, tolong hadirkan segera,” kata Hasim, salah seorang wali murid dengan nada tinggi.
Menurut pengakuan sejumlah wali murid, anak-anak mereka belakangan ini terlihat sedih. Mereka mengaku takut kala bertemu Thalib, setelah dipanggil dan ditanya status keperawanannya.
Sebagai guru agama, tindakan itu tidak pantas dilakukan kepada anak didiknya, apalagi tindakannya mengarah pada pelecehan seksual. Persoalan perawan atau tidak bukan urusan guru, apalagi anak-anak mereka masih perawan.
Mendengar cerita wali murid, Budi Trianto hanya terdiam. Ia pun menyuruh guru lain memanggil Thalib. Saat menemui wali murid, Thalib membantah tudingan melakukan pelecehan seksual dengan jimat kepada muridnya.
“Semua itu tidak benar. Saya hanya menanyakan secara baik-baik kepada anak-anak. Tidak ada maksud tertentu, kecuali saya ingin memperbaiki akhlak anak-anak. Itu saja tujuan saya,” kilah Thalib.
Kemudian, delapan siswi yang diduga menjadi korban percobaan pelecehan seksual dipertemukan dengan Thalib. Salah seorang siswi, sebut saja Bunga (nama samaran), mengungkapkan, beberapa waktu lalu ia dipanggil Thalib ke ruang UKS dan ditanyai apakah sudah pacaran atau belum dan apa pernah berhubungan badan dengan laki-laki.
Merasa dirinya tidak pernah berhubungan badan dengan laki-laki, siswi itu menjawab dirinya masih perawan. Namun, Thalib tidak percaya dan mengeluarkan sebuah benda persegi empat yang diakui sebagai jimat, alat untuk mengetes keperawanan seseorang.
“Saat itu saya disuruh memegang jimat itu. Lalu, kaki kanan Pak Thalib beberapa kali disentuhkan ke paha saya. Apa maksud dari semua itu, saya tidak mengerti. Sejak kejadian itu, saya jadi takut pada Pak Thalib,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Melati (nama samaran), siswi lainnya. Pertanyaan yang diajukan kepada Melati sama seperti kepada siswi lainnya. Hanya, Melati pernah ditawari Thalib diajak berhubungan badan, tetapi dengan halus Melati menolaknya.
“Azimat-nya itu ditempelkan ke perut kanan saya. Karena saya betul-betul masih perawan, saya tidak takut dites,” kata Melati, yang juga diakui siswi lainnya.
Seusai mendengarkan pengakuan beberapa siswinya, Thalib mengakui jika dirinya pernah memanggil sejumlah siswinya ke ruang UKS. Pemanggilan itu semata-mata ingin mendidik siswinya agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas.
Thalib juga mengaku, ajakan berhubungan badan dengan siswinya sekadar bergurau saja. Sebagai guru agama, yang sudah memiliki tiga anak, tidak mungkin melakukan tindakan amoral dengan anak didik sendiri.
Namun, sewaktu didesak wali murid untuk mengeluarkan jimatnya, Thalib menolak dengan alasan tidak memiliki jimat. Karena penjelasan Thalib dianggap tidak memuaskan, wali murid sepakat melaporkan kasus itu ke polisi. “Kami sepakat menyelesaikan kasus ini lewat jalur hukum saja,” papar salah seorang wali murid.
Sementara itu, Kasek SMPN 6 Budi Trianto saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih belum menentukan langkah terkait laporan wali murid. “Sekarang kami mau rapat dulu membahas masalah ini. Kami harap persoalan ini tidak usah dibawa ke polisi, tetapi secara kekeluargaan,” ujarnya.
Sembilan siswi SMA Yadika I Tanjung Duren, Jakarta Barat, yang berpakaian ketat digerayangi oleh KA, wakil kepala sekolah, di depan para siswa lainnya.

WOW…GURU SMA MEREMAS 9 SISWINYA


"Pelecehan ini dilakukan KA di depan pelajar lain. Secara sengaja, dia meremas pantat dan pinggul para siswi yang melanggar ketertiban pakaian. Bahkan, dia juga terang-terangan mencium salah seorang pelajar," kata Rn, orangtua salah satu siswi korban pelecehan, Rabu (21/1).

Pihak Yayasan Abdi Karya (Yadika) yang menaungi SMA Yadika I Tanjung Duren telah mengambil tindakan. Wakil Kepala Bidang Pendidikan Yadika Himsar Nababan mengatakan, KA telah dinonaktifkan. "Dia mengaku khilaf. Tapi, yang bersangkutan juga mengaku bahwa dia tidak meremas-remas maupun mencium para siswi. Itu cuma tersentuh," katanya kepada Warta Kota kemarin.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pelecehan ini terjadi di lingkungan SMA Yadika I, Tanjung duren. Kasus ini berawal dari razia pakaian siswa yang dipimpin KA sekitar pekan lalu.

Aturan berpakaian di sekolah ini antara lain adalah dilarang memakai sepatu selain warna hitam, kemeja ketat, dan rok di atas lutut. Saat razia tersebut, KA mendapati sembilan siswi dan beberapa siswa yang melanggar aturan berpakaian.

Mereka pun dikumpulkan di lapangan dan diberi teguran oleh KA, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, yang juga guru pendidikan kewarganegaraan. "Saat menegur para siswi yang menggunakan rok di atas lutut, KA memegang-megang pinggul dan meremas pantat para siswi tersebut," ujar Rn.

Bahkan, beberapa siswi kena jewer. "Saat menjewer salah satu siswi, dia menjewer sambil mencium siswi itu," imbuhnya. Rn juga mengatakan, "Kami menuntut agar dia dikeluarkan dari sekolah.Orang seperti itu tidak patut dipertahankan di sekolah ini. Bahkan dia juga tidak patut menjadi pendidik."

Para siswa SMA Yadika I yang marah karena perbuatan KA menyusun rencana unjuk rasa. Namun, sebelum demonstrasi itu digelar, pihak sekolah meredamnya. Pihak sekolah juga memeriksa KA dan menonaktifkannya. "Ini keputusan sementara, kami masih melakukan pemeriksaan. Jika sudah ada kesimpulan akhir, kami akan memberikan keputusan yang tetap," kata Himsar.

Himsar mengatakan, keputusan tidak bisa diambil secara gegabah. "Kami harus hati-hati sebab menyangkut nasib dan masa depan seseorang. Kami harus mengonfrontasi keterangan demi keterangan sampai menemukan fakta yang sebenarnya," katanya.

Sementara itu, Kepala SMA Yadika I Tanjung Duren Jerri Hutabarat mengatakan, pihak sekolah akan mengumpulkan orangtua para siswi yang menjadi korban pelecehan KA. "Kami mohon maaf atas peristiwa ini. Kami akan memperbaikinya, " katanya, kemarin.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestro Jakarta Barat AKP Sri Lestari mengatakan, pihaknya belum menerima laporan kasus pelecehan di SMA di Tanjung Duren. Sri mengatakan, polisi tidak bisa bertindak jika para korban pelecehan tersebut tidak melapor.

AYAH TIRI MEMPERKOSA ANAK

MARTAPURA, KOMPAS.com - Lengkap sudah penderitaan Bunga (bukan nama sebenarnya). Gadis berusia 16 tahun itu digauli ayah tirinya hingga berpuluh-puluh kali.

Perbuatan bejat itu dilakukan Salman alias Farizy terhadap Bunga sejak Kamis (1/1) sekitar pukul 12.00 Wita di rumahnya di Jalan Negara Dipa Desa Sungai Dikum, Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten HSU.

Pria berusia 68 tahun itu selalu mengancam bila ingin melakukan hubungan badan. Dia akan menyiram cuka getah ke wajah Bunga, jika tidak mau melayani nafsu syahwat Salman. Setelah digauli, Salman juga selalu memaksa Bunga minum Pil KB agar tidak hamil.

Anak bungsu Salman, Ham dan ibu kandung Bunga sempat memergoki Salman saat tengah melakukan aksinya di atas ranjang di dalam kelambu pada Kamis lalu.

"Seingat saya, sudah 10 kali ayah menggauli saya. Tiap kali melakukan, selalu disertai ancaman. Saya takut memberitahu masalah itu kepada ibu," ungkap Bunga saat diperiksa Penyidik Polres HSU.

Bunga juga menceritakan, dia sering dipukul ayah tirinya yang mantan residivis pembunuhan pada 1974 lalu. Salman sering memukul dengan kayu, besi atau benda keras lain.

Selain memukul badan, gadis berjilbab itu juga kerap dipukul di bagian wajah dan kepala dengan tangan kosong hingga berulang-ulang. "Saya dipaksa dan diancam. Kalau menolak melayani, wajah saya akan disiram cuka getah," katanya.

Pada Kamis malam, ibu kandung Bunga sempat memergoki perbuatan bejat Salman. Saat itu ibunya tidak berbuat apa-apa karena takut dibunuh. Bahkan nenek dan adiknya juga pernah memergoki Salman saat sedang meniduri Bunga.

Tak terima dengan perbuatan suaminya, ibu Bunga melaporkan kasus pemerkosaan itu ke Polres HSU. Mengetahui dilaporkan ke polisi, Salman kabur dari rumah. Namun Salman berhasil ditangkap polisi di Desa Kampung Melayu Ilir Martapura, Banjar.

Kapolres HSU AKBP Hermanto Kurnia, melalui Kasat Reskrim AKP Joko Mulyono dikonfirmasi, Jumat sore membenarkan pelaku sudah ditangkap. Dalam pemeriksaan, Salman mengakui semua perbuatannya. "Tersangka kita jerat dengan Pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan," tegas Joko

YA AMPUN...ANAK MEMERKOSA, AYAH IKUT BERGABUNG
Senin, 6 April 2009 | 07:40 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Seorang gadis, sebut saja M berusia 19 tahun, diperdaya dan dinodai tujuh pria, dua di antaranya adalah ayah dan anak.

Ketujuh pria tersebut sempat diperiksa di Polresta Bandung Barat, tetapi beberapa saat lalu digiring ke Mapolwiltabes Bandung untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, pelaku utama bernama Kiki (20) yang kos di kawasan Gempol, Cijerah. Peristiwa berawal pada Senin (2/4) saat Kiki yang berprofesi sebagai pengamen bertemu dengan M di kawasan Sukaluyu Bandung.

Singkat cerita, keduanya pun berkenalan. Kiki lantas membawa korban ke tempat kosnya. Di sanalah peristiwa itu terjadi.

Tuntas melakukan aksinya, Kiki lantas menawarkan M kepada temannya, Sandi (21), yang tinggal tak jauh dari tempat kosnya. Sandi tergoda, Kiki pun kembali menawarkan M kepada Yuski (20), Wahyu, Zaenal, Erik, dan Asep K.

Wahyu mengaku, ia hanya meraba-raba dan tak melakukan hubungan seksual. Sementara itu, belakangan diketahui, Zaenal ternyata tak lain adalah paman Erik, pelaku lainnya.

Namun, ternyata bukan cuma itu yang mengejutkan. Pelaku lainnya, Asep K (47), ternyata adalah ayah dari Sandi. Asep mengaku tak menyangka bahwa perempuan yang ia nodai sebelumnya ternyata juga mendapat perlakuan yang sama dari anaknya.

"Sore itu saya baru pulang. Di rumah sudah ada Kiki dan perempuan itu," kata Asep yang sudah sejak setahun lalu ditinggal istrinya yang bekerja di Arab Saudi. (dia)


EDAN, CALON PNS PERKOSA ANAK SD
Kamis, 28 Mei 2009 | 13:45 WIB


BANJARBARU, KOMPAS.com — Nasib Yayat Hidayat (26) di ujung tanduk. Tidak hanya terancam mendekam di balik jeruji besi selama bertahun-tahun, impiannya menjadi PNS pun tampaknya bakal sirna.

Yayat Hidayat diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun ini, setelah tujuh tahun berkarier menjadi tenaga honor. Bahkan, pria yang bertugas di kantor Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, itu sudah mengikuti prajabatan bulan lalu, dan tinggal menunggu SK dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banjarbaru.

Sayang, cita-cita menjadi PNS yang sebenarnya di genggaman tangan itu tampaknya bakal melayang. Pasalnya, dia terlibat aksi pencabulan anak di bawah umur. Korbannya berinisial Hn (13), yang juga korban perkosaan lima lelaki.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Banjarbaru, Wahyuddin MAP, mengakui, ada CPNS yang bertugas di Kecamatan Cempaka yang bernama Yayat Hidayat. Namun, pihaknya belum menerima laporan terkait keterlibatan kasus pencabulan itu.

"Dia memang tercatat sebagai CPNS di lingkungan Pemkot Banjarbaru. Tetapi soal terlibat kasus pencabulan, kami belum menerima laporan dari pimpinan yang bersangkutan," ujarnya.

Menindaklanjuti masalah tersebut, pria yang akrab disapa Ujud itu mengatakan, pihaknya akan konfirmasi masalah itu. Jika terbukti, pihaknya akan menyiapkan proses untuk sanksi administrasi. "Sanksi antara PNS dan CPNS berbeda. CPNS lebih rentan diberhentikan jika terbukti melakukan pelanggaran. Melanggar disiplin kategori sedang saja, bisa dibatalkan pengangkatannya, terlebih jika melakukan tindak pidana," ujar Ujud.

Ujud mengatakan akan menunggu proses peradilan. Jika terbukti, berapa pun vonisnya, pengangkatannya bakal dibatalkan. "Calon kepegawaiannya (capeg) otomatis kita berhentikan," ujar Ujud.

Terpisah, Camat Cempaka, Subeli, mengaku tidak mengetahui anak buahnya sedang diamankan di Mapolresta Banjarbaru. Dia mengaku terkejut dengan kabar penangkapan tersebut. "Saya tidak tahu ketidakhadirannya hari ini karena diamankan polisi. Sejak Senin lalu, dia absen tanpa keterangan. Terlibat kasus apa dia?" ujar Subeli balik bertanya.

Subeli akan menindaklanjuti masalah tersebut dengan mengecek ke kepolisian untuk mengetahui kebenaran yang terjadi. Soal penanganan kasus, dia menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Saat dikonfirmasi, Yayat hanya bisa pasrah. "Saya sangat menyesal. Saya sama sekali tak berniat mencabuli atau mengerayanginya," kata Yayat di sel Mapolresta Banjarbaru.

Dia mengatakan, saat kejadian, dia mengakui ikut minum minuman keras dengan beberapa tersangka lain. Saat itulah, datang Hn, Mn, dan tantenya, Amah. Waktu itu, Hn mengaku badannya gatal dan minta bajunya dibukakan. "Saya hanya membantu melepas bajunya. Cuma itu saja," katanya.

Seperti diberitakan, Hn (13), murid kelas V SD, diperkosa sejumlah lelaki. Bahkan, kejadiannya sebanyak dua kali di tempat yang sama, Rabu (13/5) malam dan Minggu (17/5) dini hari. Lima orang dijadikan tersangka, yaitu EY alias Eko Kodok (17), warga Landasan Ulin; Winarto alias Wito (31); dan Purindra (27), warga Intan Sari Banjarbaru RT 21; Eko Afransyah alias Eko Badak (23), warga Intan Sari Banjarbaru RT 20; Fj (17), warga Kompleks Wengga Palam. (ais/sar)

MENOLAK ML, ELIN DICEKIK LALU DIPERKOSA
Kamis, 14 Mei 2009 | 06:15 WIB
KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

BOGOR, KOMPAS.com- Elin Tamaya (16) ternyata dicekik dahulu sebelum diperkosa dan akhirnya tewas. Pelakunya adalah Yadi Mulyad i (17) dan Muhtarudin alias Mumuh (17), teman bermain korban, yang kini sudah ditahan di Kepolisian Sektor Citeureup, Bogor.

Perkosaan dan pembunuhan itu terjadi di kamar kosong samping rumah tersangka Yadi di Kampung Sikateng , Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, pada Senin (11/5) siang. Bukan di rumah kosong di Perumahan Bukit Pelangi, Babakan Madang, seperti diberitakan sebelumnya.

"Di situ (kawasan Perumahan Bukit Pelangi) mereka hanya main-main sampai malam lalu pulang ke rumah Yadi," kata Kepala Polsek Citeureup Ajun Komisaris Yuni Pahyuniati, Rabu (13/5).

Yuni menambahkan, Yadi dan Mumuh dikenakan pasal 338 KUHP. Tersangka Yadi yang mencekik leher korban, sedangkan Mumuh memegangi kedua kaki korban. "Mereka melakukan hal itu karena korban menolak mereka setubuhi," kata Yani.

Seperti diberitakan, aparat Polsek Citeureup menangkap Yadi dan Mumuh di rumah mereka di Kampung Sikateng, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Selasa (12/5) sore. Pagi harinya, sekitar pukul 05.00, warga menemukan jasad Elin Tamaya (16) di kebun singkong di pingir jalan Kampung Pasir Angin RT 4 RW 2, Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, tidak jauh dari rumah korban.

Dua hari sebelumnya, Minggu sore, Elin dijemput Yadi dan Mumuh. Dengan motor sewaan mereka pergi ke Babakan Madang. Sebelumnya mereka membeli obat keras merek Deksron sebanyak 30 tablet di sebuah apotik di Citeureup.

Kepada polisi, Yadi mengaku membeli obat itu atas permintaan Elin. Masih menurut pengakuan itu, hanya Elin yang meminum obat keras tersebut semuanya. Akan tetapi pengakuan itu masih akan didalami lebih lanjut.

Sekitar pukul 19.00, mereka bertiga pulang ke rumah Yadi di Kampung Sikateng. Mereka bertemu dengan keluarga Yadi, yang tidak terlalu suka atas kedatangan mereka. Mm, ayah Yadi, lalu menyuruh anaknya untuk mengantar pulang Elin.

Namun, ketiga remaja itu tidak menuruti perintah ayah Yadi. Ketiganya malah kongko-kongko di jalan di kawasan Ciherang, Jonggol, Bogor. Mereka kembali lagi ke rumah Yadi sekitar pukul 23.00 karena hujan mulai turun. Sampai di rumah Yadi, semua anggota keluarga sudah tidur. Ketiganya lalu tidur di kamar kosong di samping rumah Yadi. Kamar tempat menyimpan peralatan kebun itu ada tempat tidur yang terbuat dari bambu.

Senin (12/5) sekitar pukul 07.00, Yadi dan Mumuh bangun tidur, lalu ke luar kamar bertemu dengan ayah dan kakaknya. Sedangkan Elin masih tidur-tiduran di amben kamar tersebut. Ayah Yadi lalu pergi ke kebun dan kakak Yadi pergi kerja. Ibu Yadi ada di kamar tidurnya, tidak keluar rumah, karena sedang sakit. Keluarga Yadi tidak tahu kalau Elin juga bermalam di kamar tidak terpakai itu.

Sekitar pukul 11.00, Yadi dan Mumuh kembali ke kamar di mana Elin masih tidur-tiduran, yang kemungkinan karena masih terpengaruh obat keras yang diminumnya. Yadi dan Mumuh yang tahu remaja putri ini pernah berhubungan badan dengan laki-laki lain, mengajak Elin untuk melakukan hal itu lagi. Elin menolak. Keduanya memaksa namun korban tetap menolak dan berontak saat dipaksa.

Kedua pelaku yang sudah kalap itu lalu menindih korban. Korban yang terus berontak dicekik oleh Yadi, sementara Mumuh memegangi kakinya. Setelah korban tidak berdaya, keduanya melucuti korban. Yadi dan Mumuh lalu memperkosa korban bergiliran.

Dalam keadaan tidak berdaya Elin ditinggalkan begitu saja setelah celananya kembali dipakaikan. Saat ditinggalkan, kata Yuni mengutip pengakuan Yadi dan Mumuh Elin masih bernafas. Ketika kembali ke kamar itu pukul 14.00, keduanya mendapati Elin sudah tidak bernyawa.

Keduanya lalu pergi lagi dan baru kembali lagi ke kamar setelah larut malam. Sekitar pukul 23.00 mereka lalu menggotong jasad Elin. Dengan motor sewaan mereka membawa dan membuang jasad Elin di Kampung Pasir Angin RT 4 RW 2, Desa Pasir Mukti, atau tidak seberapa jauh dari rumah korban. Keduanya membuang jasad Elin di situ dengan tujuan agar segera ditemukan keluarganya.

Ketika warga beramai-ramai menyaksikan polisi menangani jazad Elin, Yadi bahkan ikut menonton.

SEBELUM DIBUNUH ELIN SEMPAT ML
Rabu, 13 Mei 2009 | 05:46 WIB
KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

BOGOR, KOMPAS.com- Tak sampai 24 jam, aparat Kepolisian Sektor Citeureup berhasil menangkap Mumuh (16) dan Yadi (17), yang diduga kuat sebagai pembunuh Elin Tamaya (16). Kedua tersangka ditangkap di rumah mereka di Kampung Sikateng, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Selasa (12/5) sore.

Kepala Polsek Citeureup Ajun Komisaris Yani Pahyuniati, Selasa malam, menyatakan, kedua tersangka saat ini masih diperiksa. Keduanya mengaku membekap dan mencekik korban, setelah sama-sama menelan obat-obat keras berbahaya. Sebelum itu mereka sempat melakukan hubungan badan dengan korban.

Menurut Yuni, kedua tersangka pada Minggu malam sempat membawa korban ke rumah mereka di Kampung Sikateng. Kemudian mereka membawa korban ke rumah kosong di Perumahan Bukit Pelangi di Desa Jayanti, Kecamatan Babakan Madang, Bogor. "Kami sekarang bersiap-siap untuk meneliti TKP (tempat kejadian perkara) pembunuhannya di rumah kosong itu," katanya.

Jasad Elin Tamaya, siswa kelas II SMP, ditemukan warga di kebun singkong di pingir jalan Kampung Pasir Angin RT 4/RW 2, Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Selasa pagi sekitar pukul 05.00 tadi. Saat ditemukan, korban berpakaian lengkap dan mulutnya mengeluarkan busa.

"Awalnya kami menduga remaja ini korban kelalaian orang lain sehingga dia tewas atau sesuai pasal 359 KUHP. Setelah mendapat laporan hasil autopsi jasat korban dari Bagian Forensik RS PMI Bogor, remaja ini korban pembunuhan atau sesuai pasal 338 KUHP," ungkap Yuni, usai mengurus administrasi autopsi jasat korban di Bagian Forensik RS PMI Bogor.

Berdasarkan hasil autopsi, pada jasad remaja warga Kampung Pasir Angin RT 03 RW 07 itu ditemukan tanda-tanda mati lemas akibat mulut dan hidung dibekap. Ada juga luka memar pada bibir dan leher serta luka terbuka pada jari-jari kaki kiri korban akibat kekerasan benda tumpul.

Tidak ada laporan tanda-tanda kekerasan seksual, walaupun ditemukan cairan sperma baru pada vagina korban. Sewaktu ditemukan, korban berbusana lengkap. "Hanya saja, sandal atau sepatu korban tidak ada. Telepon seluler korban tidak ada. Yang ada hanya tali untuk menggantung telepon seluler," tutur Yuni.

Ia menambahkan, korban diduga tewas delapan jam sebelum jasatnya ditemukan. "Lokasi pembunuhannya bukan di situ," katanya.

Seorang saksi, Iyan (Ketua RT setempat) kepada penyidik mengatakan, sempat melihat korban dijemput seorang laki-laki bermotor pada Minggu sekitar pukul 15.30.

Biasa tidak pulang

Lukman alias Pungut (40), ayah korban, menuturkan, Elin adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Minggu sore lalu, ketua RT dan beberapa orang yang sedang kerja bakti melihat Elin mondar-mandir di jalan sambil bertelepon. Setelah itu datang seorang laki-laki bermotor menjemputnya.

"Minggu sore Elin memang pamit ke ibunya, mau pergi ke rumah Atika, teman SMP-nya di Kampung Sikateng, Desa Tajur, Citeureup. Pamit juga ke kakaknya, Lisna (17), karena Elin pinjam sepatu sandalnya," ungkapnya.

Elin, lanjut Pungut, memang biasa main dan menginap di rumah Atika. Begitu juga sebaliknya, Atika kerap bermain dan menginap di rumah Elin. Sebab itu, ketika Elin tidak pulang sampai Senin malamnya, orangtua Elin tidak terlalu khawatir.

Tadi pagi istri Pungut mendapat kabar ada penemuan mayat di kebun singkong pinggir jalan. Katanya, wajahnya mirip dengan Elin. Setelah dilihat, ternyata benar dia adalah Elin.

GADIS SMP DI LAMPUNG DIJADIKAN BUDAK SEKS OLEH TEMAN SEKOLAHNYA

April 29, 2008 · & Komentar
LAMPUNG – Warga Kabupaten Lampung heboh. Sebuah klip pemerkosaan beredar dari HP ke HP. Pelaku dan korbannya masih duduk di bangku SMP.

Sungguh miris. Dalam klip video tersebut tergambar seorang anak perempuan, sebut saja namanya Cinta, dikerubuti dua teman prianya. Yang mereka lakukan sungguh tak pantas. Secara bersamaan, keduanya memperlakukan Cinta dengan kasar dan tidak patut dilakukan anak SMP. Jari salah satu pelaku masuk ke kemaluan Cinta, yang lainnya menciumi buah dadanya. Cinta yang tidur di tanah hanya bisa merintih “Sakit… sakit.”

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan detektif conan, Cinta dilecehkan teman-temannya itu selama setahun. Dia diancam harus melayani mereka agar rahasia Cinta tidak tersebar.

Semua berawal pada tahun 2006, ketika Cinta duduk di kelas I SMP I Blambangan Umpu, Way Kanan, Lampung Utara. Dia berpacaran dengan teman sekolahnya itu, sebut saja Yanto. Cara pacaran Cinta dan Yanto tidak hanya pegang tangan atau sekadar cium pipi, mereka sudah melakukan hal yang belum pantas dilakukan yaitu melakukan hubungan intim dan hal ini ketahuan oleh teman-teman sekelas karena dilakukan sehabis olahraga diruang kelas saat kelas sedang sepi.

Cara mereka berpacaran yang sudah kelewat batas itu akhirnya dilaporkan kepada ayah Yanto. Agar hubungan terlarang Yanto tak berlanjut, ayahnya memindahkan sekolahnya ke Kota Bumi, Lampung.

Namun kepindahan Yanto tidak berakhir buat Cinta. Teman-teman Cinta satu sekolah yang mengetahui hal itu mengancam Cinta. Dia harus melayani mereka, jika tidak Cinta akan dilaporkan ke pihak sekolah. Cinta yang ketakutan akhirnya pasrah memenuhi hasrat seksual mereka. Sejak saat itu Cinta hampir setiap hari harus melayani teman-teman pria di SMP-nya baik perorangan maupun beramai-ramai.

Selama setahun Cinta diperlakukan seperti budak seks oleh beberapa teman pria di SMP-nya itu. Biasanya mereka melakukan hal itu di Lapangan Pendopo di Way Kanan, sekolah, bahkan di pinggir kali. Nah, di Lapangan Pendopolah klip video yang tersebar di Kabupaten Way Kanan diambil. Dengan video tersebut, berkali-kali Cinta diancam jika tidak memenuhi keinginan mereka.

“Tidak selalu dibegitukan, kadang Cinta hanya disuruh melepas seluruh bajunya hingga telanjang dan duduk-duduk secara bergantian di pangkuan mereka, kadang bila belajar bersama Cinta diajak ikut dan belajar bersama dalam keadaan telanjang atau hanya disuruh mandi sambil ditontonin,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya.

Setelah hampir setahun, rupanya anak-anak SMP itu sudah mulai bosan dengan Cinta. Mereka mulai memeras dan meminta uang pada gadis malang tersebut. Jika tidak dipenuhi, klip video tersebut akan disebar.

Tentu saja Cinta yang saat ini sudah duduk di kelas II tidak bisa memenuhinya karena yang dimiliki Cinta hanya tubuhnya saja. Karena itu pula klip video itu tersebar dan akhirnya diselidiki oleh Polres Way Kanan.

FOTO BUGIL GURU WANITA SMP BANYAK DIMINATI MURID-MURIDNYA

Juni 5, 2008 · & Komentar

PAMEKASAN – Dinas P dan K Pamekasan, Madura, akhirnya memecat guru SMP Negeri 2 Pamekasan yang ketahuan berfoto bugil dengan pria selingkuhannya, seorang PNS di lingkungan Dinas Perhubungan Pamekasan.

Kepala Dinas P dan K Pamekasan, Yusuf Suhartono, Senin (2/6), menyatakan pemecatan Ri dilakukan setelah pihaknya menerima laporan tertulis dari istri selingkuhan Ri.

Menurut dia, dalam surat laporan yang disampaikan ke Dinas P dan K Pamekasan, istri Ri juga menyertakan foto bugil keduanya yang kini sudah beredar luas di kalangan masyarakat Pamekasan.

“Tapi waktu itu saya tidak langsung percaya begitu saja tentang laporan yang saya terima. Tapi setelah saya cek dan minta keterangan ke pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk hasil penelitian Bawasda Pamekasan, yang bersangkutan memang benar melakukan perbuatan seperti itu,” kata Yusuf Suhartono.

Menurut Yusuf, hingga ada keputusan lebih lanjut, maka Ri tidak diperkenankan lagi mengajar.

“Kalau dia mengajar lagi bagaimana citra pendidikan di Pamekasan ini, setiap kali melihat dia kita bisa berpikiran macam-macam belum lagi siswa siswa pira selalu bersiul nakal setiap kali Ri melintas” kata Yusuf yang mantan kepala SMA Negeri Pamekasan.

Sementara selingkuhan Ri kini juga mulai diproses di internal Dishub dan Bawasda (Badan Pengawas Daerah) Pamekasan.

“Saya sudah memerintahkan Bawas untuk mengusut tuntas hal itu, karena terus terang ini sangat mencemarkan citra PNS di Pamekasan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Pamekasan, Djamaludin Karim.

Foto bugil Ri dan selingkuhannya yang merupakan PNS Dishub golongan II/C kini marak beredar di pemilik HP di Pamekasan. Foto mereka diambil di sebuah penginapan di Pamekasan.

Akibat perbuatan suaminya, maka Wa yang kini hamil tua memilih pisah ranjang. Demikian juga dengan suami Ri.

Kepala Dinas P dan K Pamekasan Yusuf Suhartono menjelaskan, kasus perselingkuhan yang dilakukan oknum guru di Pamekasan sudah berulang kali. Tapi yang berfoto bugil hingga tersebar luar ke masyarakat baru kali ini.

“Ini berarti yang terparah. Apalagi Pemkab Pamekasan telah bersepakat dari dulu menerapkan syariat Islam,” ujar Yusuf Suhartono.

14 ABG Jual Diri Di Bogor, Mulanya Sebagai Balas Dendam Akhirnya Ketagihan

April 27, 2008 · & Komentar
BOGOR – Belasan pelacur yang biasa mangkal di sejumlah pusat keramaian dan jalan protokol di Bogor, Sabtu malam dirazia.

Sebanyak 15 pelacur, 14 di antaranya ABG dan tiga waria diamankan.


Razia gabungan Denpom, Disnakersos, Dinkes, dan Satpol Kota Bogor itu digelar di Pasar Bogor, Tugu Kujang, Jln. Pajajaran, Batutulis, Jembatan Merah, Taman Kencana dan Taman Topi.

Dalam razia ini, petugas berhasil menjaring 15 pelacur, 14 di antaranya cewek ABG. “Mereka dirazia karena mangkal di tempat-tempat umum dan mengganggu ketertiban umum,” ujar Kasi Penegakan Perda Satpol PP Farid Wahdi.

Pelacur dan waria itu kemudian digelandang ke Disnakersos untuk dites urine dan didata. “Dari 15 pelacur itu delapan di antaranya wajah baru yang berasal dari Cianjur,” ujar Kabid Pelayanan Disnakersos M Juwita.

BALAS DENDAM
Seorang PSK berinisal St,39, saat diinterogasi mengaku baru kali ini terjun di Kota Bogor karena ingin balas dendam dengan suaminya.

“Saya janda empat anak dicerai suami tanpa alasan jelas. Saya ingin balas dendam dengan membuat suami saya asal Bogor itu malu melihat bekas istri jadi pelacur, eh ternyata lama-lama saya jadi ketagihan” katanya.

Dia mengaku tidak beroperasi setiap malam. “Uang yang saya dapatkan itu murni untuk saya pribadi, sebab anak saya sudah ada yang menikah dan tidak ada yang tinggal dengan saya,” ucapnya.

Selama Empat Jam Istri dan Anak Diperkosa Secara Marathon oleh TNI

Maret 1, 2008 · & Komentar
MATANGKULI – Tindak kekerasan seksual dan penyiksaan fisik yang diikuti dengan perampokan terhadap 22 warga di dua desa pedalaman di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Rabu (7/3) dinihari lalu, semakin terkuak. Kepada Serambi yang melakukan klarifikasi lapangan dan wawancara langsung, hari Jumat (24/3), para korban mengungkapkan pelaku seluruhnya berseragam loreng, bersenjata api laras panjang dan pendek, serta mengenakan topeng jenis serbu.Para korban mengindentifikasi bahwa pelaku adalah oknum tentara yang tiga malam sebelum kejadian sempat bermalam di meunasah Desa Alue Lhok setelah pada siang harinya mengelilingi salah satu desa lokasi kejadian itu. Satu desa lainnya yang warganya menjadi korban perampokan dan tindak kekerasan seksual adalah Seuneubok Aceh.

Tapi kepada sejumlah wartawan, termasuk dari media elektronika TVRI dan RCTI, Dandim Aceh Utara Letkol Inf Suyatno membantah telah terjadi kekerasan seksual dan kekerasan fisik seperti yang dilaporkan masyarakat Matangkuli itu. “Itu fitnah. Itu isu yang sengaja dihembuskan untuk menjauhkan rakyat dengan TNI. Karena belakangan rakyat sudah menerima keberadaan TNI di daerah ini,” kata Dandim, Sabtu siang, di Mapolres Aceh Utara.

Desa Alue Lhok dan Desa Seuneubok Aceh adalah desa bertetangga yang berada paling pelosok Matangkuli. Menurut sejumlah warga kedua desa yang hanya berpenduduk 110 KK itu, desa mereka merupakan ujung Kecamatan Matangkuli. Perkampungan yang masih dirundung duka mendalam akibat tragedi dinihari tersebut, dikelilingi oleh hutan lebat dan areal persawahan tak tergarap plus perkebunan.

Dalam observasi lapangan dan wawancara langsung dengan para korban selama hampir empat jam, Serambi mendapat gambaran, peristiwa itu terjadi secara marathon mulai pukul 01.00 hingga 04.00 dinihari.

Para pelaku, digambarkan, dalam menjalankan aksinya mayoritas menggunakan bahasa Indonesia aksen Jawa yang sangat kental. Sementara jumlah pelaku tidak terdeteksi secara detail, karena antara satu rumah dengan rumah lain yang didatangi jumlahnya bervariasi; dua hingga enam orang.

Modus operandi pemerkosaan dan perampokan yang terjadi di sembilan rumah warga di Desa Alue Lhok dan Seuneubok Aceh itu, dilaporkan, berlangsung seragam. Rata-rata, pelaku mengetuk pintu rumah, mematikan aliran listrik, meminta pria keluar dari rumah kemudian tangannya diikat ke belakang dan disiksa, selanjutnya isi rumah diobrak-abrik dan di antara isteri dan anak-anak mereka diperkosa bergilir

Adalah Ny Lt (32). Wanita asal Aceh Tengah yang bersama suaminya, R (34), menetap di Desa Alue Lhok, tidak membayangkan akan menghadapi nestapa yang begitu dahsyat dalam hidupnya. Ibu sepasang balita ini dengan nada getir menuturkan, ia diperkosa secara bergilir oleh dua oknum berseragam loreng setelah suaminya diseret keluar rumah dan tangannya diikat ke belakang serta kepalanya ditodong senjata api dan diperlakukan secara tidak manusiawi.

Ia yang sebelumnya sempat mengadukan kasus tersebut ke delegasi Palang Merah Internasional (ICRC) di Lhokseumawe mengungkapkan, pemerkosaan itu terjadi pada saat dua aparat masing-masing bersenjata laras panjang dan pistol mengacak-acak isi rumahnya untuk mencari benda-benda berharga. Sementara suaminya terus dipukuli.

“Kalau mau suamimu selamat, berikan semua uang dan emas. Dan kamu buka pakaian seluruhnya. Saya takut, Pak. Dan kasihan sama abang (suaminya-red). Sehingga sambil menangis saya menanggalkan seluruh pakaian saya. kemudian salah seorang dari mereka menarik saya kedalam kamar, disana saya disuruh melayani mereka seperti saya melayani abang kalau merasa kurang iklhas, yang didalam memberi tanda bagi yang diluar untuk memukuli abang” ungkapnya sambil menangis.

Setelah memperkosa, kisah Lt, kedua aparat itu masih meminta uang dan emas miliknya. “Bila tidak dikasih, suami saya katanya akan dibawa ke pos mereka di Cot Girek. Saya akhirnya memberikan uang simpanan sebesar Rp 3,5 juta dan emas seberat lima mayam (15 gram- red). Setelah beraksi sekitar 0,5 jam di rumah kami mereka pergi,” tambah korban yang sampai hari Jumat tampak masih shock berat.

Kisah serupa dialami Ny Nah (35). Petaka yang menimpa warga Desa Alue Lhok ini terjadi sekitar pukul 01.00. Saat itu enam pria berseragam loreng dan bertopeng dan senjata di tangan menggedor pintu. Setelah pintu dibuka, aliran listrik dimatikan. Kemudian mereka menanyai pemilik rumah lalu suaminya digelandang ke luar rumah.

Saat kejadian, di rumah korban ada lima wanita. Selain dirinya, ada AN (18), Ah (13) dan Mar (20) serta seorang nenek. Dengan modus yang sama, pelaku yang tiga orang masuk dan tiga lainnya berada di luar rumah mengobark-abrik isi rumah seraya minta duit dan emas simpanan.

“Katanya untuk dana operasi. Kalau tidak kami akan dibawa ke pos mereka di Cot Girek. Karena perlakuan mereka sangat menakutkan, akhirnya semua uang simpanan sebesar Rp 3 juta kami serahkan, lalu tiga jam tangan, dan satu pasang sepatu,” cerita Nah.

Setelah menguras harta, menurut Nah, tiga pria berseragam loreng yang berada di dalam rumah memerintahkan seluruh wanita membuka pakaian. Nah digiring ke kamar kemudian diperkosa oleh satu orang. Sedangkan tiga wanita lainnya, kecuali seorang nenek, digerayangi dan disuruh menari-nari. Bahkan, AN yang masih gadis dilaporkan ikut dicabuli. “Kami tidak tahu harus bagaimana. Mereka bersenjata dan mengancam tembak bila tidak menuruti. Bahkan setelah selesai melakukan aksinya mereka masih mengancam kami untuk tidak mengadu ke pihak manapun,” tutur Nah sesengukan. Seorang anaknya di gendongan akhirnya ikut menangis yang membuat suasana wawancara menjadi pilu.

Masih di Desa Alue Lhok. Ny Aih (45), dituturkan seorang putrinya, mendadak pingsan pada saat empat pria berseragam loreng dan bertopeng mengetuk pintu dan mengacak-acak isi rumahnya sekaligus memerintahkan ketiga anaknya R (17), As (15), dan B (13) untuk telanjang.

Ketiga anak korban digerayangi tiga pria bersenjata itu. “Satu tangan mereka memegangi senjata. Sedangkan satu lainnya menggerayangi anggota tubuh kami,” ungkap anak-anak korban yang didampingi ibunya. Aksi itu dilakukan para pelaku setelah menguras harta benda mereka berupa uang kontan Rp 1,5 juta dan sejumlah emas perhiasan.

Perlakuan tidak manusiawi lainnya juga menimpa Nd (60). Ayah empat anak ini bersama seorang anaknya MF dan menantunya AR, diikat tangannya diikat ke belakang kemudian dipukuli oleh dua dari empat orang berseragam. Dua lainnya, kemudian mengacak rumah panggungnya. dan meminta harta bendanya.

“Setelah mendapat penyiksaan sekian lama, akhirnya mereka menemukan uang Rp 2,5 juta. Rp 500 ribu di antaranya uang warga yang akan saya pergunakan untuk menebus beras murah. Sedangkan sisanya mau saya bayar harga lembu acara perkawinan anak saya yang telah berlangsung lima hari sebelum kejadian,” ungkap Nd yang juga diancam akan dibawa ke Cot Girek, Lhoksukon, bila tidak memberikan uang.

Dalam peristiwa yang sebelumnya tidak diadukan kemana pun, pelaku setidaknya menyantroni sembilan rumah yang mengakibatkan 22 orang, 16 wanita dan enam pria, mengalami tindak kekerasan psikis dan fisik.

Selain itu, para korban perampokan dan tindak kekerasan lainnya masing-masing Ny Hh (35) dan suaminya Mus (37) warga Alue Lhok dengan kerugian uang kontan Rp 1,2 juta, Ny Ham, Seuneubok Aceh, Mar (30), warga Seuneubok Aceh Rp 300 ribu, Yusma (35), uang Rp 1 juta dan emas 15 mayam dirampok dan suaminya Yus diikat serta disiksa, Mah (37) suaminya Ishak uang Rp 1 juta disikat, Ny Aisyah uang tunai Rp 1,5 juta, dan N Fat uang Rp 3 juta serta emas 5 mayam. (tim)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar